ACEH TIMUR--MI: Ratusan warga Desa Kuala Panggung, Ketibung Musara, Gampoeng Arul Durin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, melakukan doa bersama serta membaca Quran Surat Yasin, untuk mengusir gajah liar. Mereka meminta kepada Allah agar dijauhkan dari gangguan gajag yang selama ini meresahkan.
Acara berlangsung di pinggirah hutan Desa Kuala Pangguh, yang dipimpin oleh tokoh ulama dan di hadiri pawang gajah, unsur relawan Yayasan Lauser Internasional, unsur pemkab Aceh Timur, dan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.
Tokoh Masyarakat Serbajadi, Bukhari, Minggu (18/4) mengatakan, besama itu juga didatangkan seorang pawang pengusir gajah dari Kabupaten Gayu Lues. Pengusiran dilakukan dengan cara memasang panji kain putih di empat sudut areal yang sering dilalui atau diamuk binatang berbelalai itu. Selain itu panitia juga menggelar kenduri tolak bala dengan potong kambing dan ayam.
Dikatakan Bukhari, berbagai upacara tersebut dilakukan sebagai upaya mengusir gajah liar yang telah mengusik ketentaraman warga pedalaman dekat lereng pengunungan setempat. "Dengan usaha ini harapannya konflik gajah dengan waraga segera bisa berakhir" ujarnya.
Sebelumnya sebanyak 51 rumah milik warga setempat hancur di amuk kawanan gajar liar. Puluhan ha tanaman cokelat, sawit, dan palawija juga rusak. Itu sebabnya 68 kelarga warga setempat mengungsi ke lokasi lain untuk menghindarai serangan hewan bertubuh besar dilindungi tersebut.
Ratusan warga Desa Kuala Panggung, Ketibung Musara, Gampoeng Arul Durin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, melakukan doa bersama serta membaca Quran Surat Yasin, untuk mengusir gajah liar. Mereka meminta kepada Allah agar dijauhkan dari gangguan gajah yang selama ini meresahkan.
Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/18/136837/126/101/Warga-Usir-Gajah-dengan-Membaca-Al-Quran
Minggu, 18 April 2010
Cara Anak Pantai Merayakan Hari Kartini
[Surfer memperingati Hari Kartini dengan memakai kebaya] Surfer memperingati Hari Kartini dengan memakai kebaya
VIVAnews - Komunitas Surfer Girl menyambut Hari Kartini dengan surfing culture di pantai Kuta Bali. Jika biasanya bermain surfing atau selancar menggunakan pakaian renang atau bikini, hari ini di pantai Kuta Bali, Komunitas surfer girl unjuk kebolehan bermain surfing dengan menggunakan kebaya.
Meski berkebaya, para surfer girl ini tetap tampak seksi sehingga menjadi banyak perhatian pengunjung pantai. "Inilah bentuk ekspresi kami sebagai anak pantai untuk sambut Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April mendatang," ujar Renny Bee ketua penyelenggara surfing culture di sela-sela kegiatan, Minggu 18 April 2010.
Para surfer girl ini kemudian unjuk kebolehan bermain selancar. Ada 60 fotografer awam maupun profesional yang mengikuti ajang membidik para surfer girl yang sedang beraksi.
"Nanti juga akan ada award bagi surfer yang memakai kebaya dengan bagus dan tingkat kenyamanan surfer saat bermain surfing dengan mengenakan kebaya," ujar Renny.
Bagi photografer juga ada award yang dikategorikan menjadi dua, yakni lifestyle dan surf shot.
Sumber: http://id.news.yahoo.com/viva/20100418/tpl-cara-anak-pantai-merayakan-hari-kart-fa55e98.html
VIVAnews - Komunitas Surfer Girl menyambut Hari Kartini dengan surfing culture di pantai Kuta Bali. Jika biasanya bermain surfing atau selancar menggunakan pakaian renang atau bikini, hari ini di pantai Kuta Bali, Komunitas surfer girl unjuk kebolehan bermain surfing dengan menggunakan kebaya.
Meski berkebaya, para surfer girl ini tetap tampak seksi sehingga menjadi banyak perhatian pengunjung pantai. "Inilah bentuk ekspresi kami sebagai anak pantai untuk sambut Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April mendatang," ujar Renny Bee ketua penyelenggara surfing culture di sela-sela kegiatan, Minggu 18 April 2010.
Para surfer girl ini kemudian unjuk kebolehan bermain selancar. Ada 60 fotografer awam maupun profesional yang mengikuti ajang membidik para surfer girl yang sedang beraksi.
"Nanti juga akan ada award bagi surfer yang memakai kebaya dengan bagus dan tingkat kenyamanan surfer saat bermain surfing dengan mengenakan kebaya," ujar Renny.
Bagi photografer juga ada award yang dikategorikan menjadi dua, yakni lifestyle dan surf shot.
Sumber: http://id.news.yahoo.com/viva/20100418/tpl-cara-anak-pantai-merayakan-hari-kart-fa55e98.html
Inilah Ukuran Bersih!
Bersih acap identik dengan higienis dan sehat. Tapi ternyata, terlalu bersih malah mungkin memberikan dampak yang berbahaya pada kesehatan. Kok begitu? Mengeliminasi bakteri jahat dan menyelamatkan bakteri baik adalah solusi paling tepat dalam kebersihan. Simak contohnya.
Bisa jadi, seorang ibu sering terlalu bersemangat dalam menciptakan lingkungan rumah yang bersih dan bebas dari kuman serta penyakit. Namun faktanya adalah, ketika menggunakan produk pembersih anti-bakteri untuk membunuh semua bakteri berbahaya, sepertiga bakteri yang justru penting bagi kesehatan kulit malah ikut binasa.
Stuart B. Levy, M.D., direktur the Center for Adaptation Genetics and Drug Resistance dari Tuft University School of Medicine di Boston, Amerika Serikat, menyarankan agar selalu terbiasa membersihkan diri setiap selesai beraktivitas. Tujuannya untuk memperkecil kontak langsung dengan mikroba dan kotoran, terutama sebelum makan. Tapi itu tak berarti pembersihan diri dilakukan setiap 5-10 menit sekali.
Ada kalanya punya beberapa orang sangat terobsesi pada kebersihan dan berusaha untuk mensterilkan semua benda di sekitar dengan produk-produk kebersihan. Saking bersemangatnya, pembersih dengan label antibakteri, seperti triclosan, jadi idola. Padahal, triclosan adalah bisa menjadi pemicu terciptanya superbug, yaitu bakteri yang sudah mengalami banyak sekali perubahan sehingga membuatnya tidak mempan lagi dibunuh oleh apapun.
Dalam studi yang dilakukan di Tuft University, Dr. Levy menemukan lima jenis E.coli yang kebal terhadap triclosan. Pada dasarnya, triclosan akan melenyapkan hampir 95 persen bakteri normal. Tapi beberapa bakteri yang lain akan bermutasi dan berbalik melawan triclosan. Mungkin jumlah mutasi per generasi sangat kecil, namun reproduksi mereka sangat cepat. Jadi bisa dikatakan mereka mampu melakukan banyak mutasi dalam waktu yang singkat.
Setiap lima persen populasi yang “selamat” dari triclosan akan menjadi bakteri-bakteri yang semakin kuat dan tahan terhadap paparan zat kimia. Dan ketika mereka sudah sampai pada tahap tahan terhadap antibiotik, mereka mewujud sebagai superbug.
Label antibakteri pada sebagian besar produk sabun dan pembersih yang ada di dapur serta kamar mandi adalah santapan konsumsi kebutuhan sehari-hari. Namun sekali lagi, penggunaan secara besar-besaran juga tidak langsung menjamin antibakteri tersebut bekerja dengan efektif.
Dr. Levy menyarankan produk-produk antibakteri seharusnya dibutuhkan di rumah sakit dan rumah yang penghuninya memiliki sistem imunitas yang rendah. Jadi, untuk menjaga agar tetap bersih dan terhindar dari serangan superbug, cucilah tangan dengan menggunakan sabun tradisional dan air selama 15-30 detik saja. Itu saja.
Sumber: http://kesehatan.liputan6.com/tips/201004/272963/Inilah.Ukuran.Bersih!
Bisa jadi, seorang ibu sering terlalu bersemangat dalam menciptakan lingkungan rumah yang bersih dan bebas dari kuman serta penyakit. Namun faktanya adalah, ketika menggunakan produk pembersih anti-bakteri untuk membunuh semua bakteri berbahaya, sepertiga bakteri yang justru penting bagi kesehatan kulit malah ikut binasa.
Stuart B. Levy, M.D., direktur the Center for Adaptation Genetics and Drug Resistance dari Tuft University School of Medicine di Boston, Amerika Serikat, menyarankan agar selalu terbiasa membersihkan diri setiap selesai beraktivitas. Tujuannya untuk memperkecil kontak langsung dengan mikroba dan kotoran, terutama sebelum makan. Tapi itu tak berarti pembersihan diri dilakukan setiap 5-10 menit sekali.
Ada kalanya punya beberapa orang sangat terobsesi pada kebersihan dan berusaha untuk mensterilkan semua benda di sekitar dengan produk-produk kebersihan. Saking bersemangatnya, pembersih dengan label antibakteri, seperti triclosan, jadi idola. Padahal, triclosan adalah bisa menjadi pemicu terciptanya superbug, yaitu bakteri yang sudah mengalami banyak sekali perubahan sehingga membuatnya tidak mempan lagi dibunuh oleh apapun.
Dalam studi yang dilakukan di Tuft University, Dr. Levy menemukan lima jenis E.coli yang kebal terhadap triclosan. Pada dasarnya, triclosan akan melenyapkan hampir 95 persen bakteri normal. Tapi beberapa bakteri yang lain akan bermutasi dan berbalik melawan triclosan. Mungkin jumlah mutasi per generasi sangat kecil, namun reproduksi mereka sangat cepat. Jadi bisa dikatakan mereka mampu melakukan banyak mutasi dalam waktu yang singkat.
Setiap lima persen populasi yang “selamat” dari triclosan akan menjadi bakteri-bakteri yang semakin kuat dan tahan terhadap paparan zat kimia. Dan ketika mereka sudah sampai pada tahap tahan terhadap antibiotik, mereka mewujud sebagai superbug.
Label antibakteri pada sebagian besar produk sabun dan pembersih yang ada di dapur serta kamar mandi adalah santapan konsumsi kebutuhan sehari-hari. Namun sekali lagi, penggunaan secara besar-besaran juga tidak langsung menjamin antibakteri tersebut bekerja dengan efektif.
Dr. Levy menyarankan produk-produk antibakteri seharusnya dibutuhkan di rumah sakit dan rumah yang penghuninya memiliki sistem imunitas yang rendah. Jadi, untuk menjaga agar tetap bersih dan terhindar dari serangan superbug, cucilah tangan dengan menggunakan sabun tradisional dan air selama 15-30 detik saja. Itu saja.
Sumber: http://kesehatan.liputan6.com/tips/201004/272963/Inilah.Ukuran.Bersih!
Sabtu, 17 April 2010
Awas, Tukang Ngebut Bakal Dipenjara 2 Bulan
Jakarta - Awas,bagi anda yang senang ngebut dan ugal-ugalan di jalan. Maka berhati-hatilah sekarang. Sebab bila tertangkap tangan sedang ngebut diluar batas kecepatan, maka denda Rp 500 ribu atau kurungan penjara 2 bulan siap menanti anda.
Sebab dalam UU no 22 tentang lalu lintas, ternyata disebutkan kalau si tukang kebut diancam hukuman kurungan penjara hingga 2 bulan lamanya dengan denda Rp 500 ribu.
Hal tersebut disampaikan oleh Kasubdit minrekinden Ditlantas Polri Umar Septono dalam peluncuran buku safety riding dan safety driving milik IMI di Kemayoran, Jakarta (17/4/2010).
"Dalam undang-undang baru, bagi yang berkendara melebihi batas kecepatan akan didenda Rp 500 ribu atau kurungan 2 bulan," tegasnya.
Hukuman berat itu sendiri sebenarnya memiliki tujuan yang mulia. Sebab data yang dirilis Polri baru-baru ini, setidaknya 1.016 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2009.
Dan di Jakarta, motor mendominasi kecelakaan itu dengan persentase hingga 70 persennya. Kelompok usia muda pun merupakan kelompok yang paling rentan.
"Karena sekarang bukan jaminan orang punya SIM perilakunya baik. Seharusnya bagi punya SIM tahu cara berlalu lintas yang baik," ujar Umar.
Sumber: http://oto.detik.com/read/2010/04/17/160704/1340233/648/awas-tukang-ngebut-bakal-dipenjara-2-bulan
Sebab dalam UU no 22 tentang lalu lintas, ternyata disebutkan kalau si tukang kebut diancam hukuman kurungan penjara hingga 2 bulan lamanya dengan denda Rp 500 ribu.
Hal tersebut disampaikan oleh Kasubdit minrekinden Ditlantas Polri Umar Septono dalam peluncuran buku safety riding dan safety driving milik IMI di Kemayoran, Jakarta (17/4/2010).
"Dalam undang-undang baru, bagi yang berkendara melebihi batas kecepatan akan didenda Rp 500 ribu atau kurungan 2 bulan," tegasnya.
Hukuman berat itu sendiri sebenarnya memiliki tujuan yang mulia. Sebab data yang dirilis Polri baru-baru ini, setidaknya 1.016 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2009.
Dan di Jakarta, motor mendominasi kecelakaan itu dengan persentase hingga 70 persennya. Kelompok usia muda pun merupakan kelompok yang paling rentan.
"Karena sekarang bukan jaminan orang punya SIM perilakunya baik. Seharusnya bagi punya SIM tahu cara berlalu lintas yang baik," ujar Umar.
Sumber: http://oto.detik.com/read/2010/04/17/160704/1340233/648/awas-tukang-ngebut-bakal-dipenjara-2-bulan
Risiko Epilepsi Pada Anak Autis
Jakarta, Salah satu keadaan yang sering dihubungkan dengan autisme adalah epilepsi. Penyandang autisme memiliki risiko lebih besar untuk mengalami epilepsi dibandingkan dengan anak yang tidak autisme.
Keterlibatan gangguan otak pada autisme telah dibuktikan dengan pemeriksaan terhadap anatomi dan struktur otak, pemeriksaan terhadap bahan kimia di otak dan berbagai pemeriksaan pencitraan (imaging). Namun tak ada satupun yang dianggap sebagai penyebab pasti dari autisme.
"Sebanyak 40 persen anak penyandang autisme juga mengalami epilepsi, sedangkan risiko pada anak bukan autisme hanya sekitar 1-2 persen saja. Sebaliknya anak yang mengalami epilepsi tertentu sering disertai dengan gejala autisme," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dalam acara Expo Peduli Autisme 2010, di Gedung Sucofindo, Jakarta, Sabtu (17/4/2010).
Dr Hardiono menambahkan kejang adalah perubahan sementara dan tidak terkontrol dari kesadaran, perilaku, aktivitas motorik, sensasi atau fungsi otonomnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas listrik sel saraf di otak yang berlebihan. Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit dianggap sebagai kejang lama, sedangkan jika berlangsung lebih dari 30 menit disebut sebagai status epileptikus.
Anak dengan beberapa keadaan khusus misalnya tuberous sclerosis, rubella congenital, sindrom Down, sindrom Landau Kleffner dan electrical status epilepticus during slow-sleep dapat mengalami autisme dan epilepsi secara bersama-sama.
Seorang anak yang mengalai kejang tanpa demam untuk pertama kalinya disebut sebagai first unprovoked seizure. Sebanyak 20 persen anak yang mengalami kejang ini akan mengalami kejang kembali. Jika sudah dua kali mengalami kejang tanpa sebab maka disebut sebagai epilepsi. Epilepsi bisa terlihat sebagai bangkitan kejang umum seluruh tubuh atau hanya satu sisi (parsial) tubuh saja.
Bila seorang anak mengalami kejang tanpa sebab dua kali atau lebih, maka biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan electroencephalography (EEG). Berdasarkan pemeriksaan ini dapat diketahui aktivitas listrik sel saraf otak. Karena pemeriksaan EEG dilakukan saat anak sedang tidak terkena serangan, maka sebanyak 10-20 persen anak menunjukkan hasil EEG yang normal.
"Pemeriksaan EEG tidak dilakukan secara rutin pada anak penyandang autisme. EEG hanya bermanfaat jika anak mengalami epilepsi atau kemunduran (regresi). Dan juga tidak ada bukti bahwa kelainan EEG tanpa kejang bisa memperburuk gejala autisme," tambahnya.
Suatu penelitian jangka panjang dilakukan terhadap 108 anak penyandang autisme, didapatkan pada usia 17-40 tahun sekitar 38 persennya mengalami epilepsi. Epilepsi lebih sering ditemui pada penyandang autisme yang disebabkan oleh penyebab medis jelas, serta kejang pertama paling sering terjadi saat usia 3-7 tahun.
"Serangan yang paling sering dialami oleh anak autis adalah absence, yaitu serangan bengong secara tiba-tiba dan terjadi belasan kali dalam sehari. Kondisi ini mudah untuk diobati," ujar dokter dari divisi saraf anak departemen ilmu kesehatan anak FKUI.
Dr Hardiono menuturkan anak autis banyak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan gangguan perilaku lainnya, maka tidak semua obat bisa digunakan untuk anak penyandang autis dan harus memperhatikan kemungkinan efek samping dari pengobatan yang diberikan. Karena beberapa obat sering menyebabkan anak bertambah hiperaktif dan masalah perilaku lainnya.
"Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah jangan sekali-kali menghentikan obat epilepsi secara mendadak atau sendiri, karena dapat menyebabkan kejang yang lebih hebat dan sulit untuk diatasi," tambahnya.
Sumber: Risiko Epilepsi Pada Anak Autis
Vera Farah Bararah - detikHealth
img
ilustrasi (Foto: wellsphere)
Jakarta, Salah satu keadaan yang sering dihubungkan dengan autisme adalah epilepsi. Penyandang autisme memiliki risiko lebih besar untuk mengalami epilepsi dibandingkan dengan anak yang tidak autisme.
Keterlibatan gangguan otak pada autisme telah dibuktikan dengan pemeriksaan terhadap anatomi dan struktur otak, pemeriksaan terhadap bahan kimia di otak dan berbagai pemeriksaan pencitraan (imaging). Namun tak ada satupun yang dianggap sebagai penyebab pasti dari autisme.
"Sebanyak 40 persen anak penyandang autisme juga mengalami epilepsi, sedangkan risiko pada anak bukan autisme hanya sekitar 1-2 persen saja. Sebaliknya anak yang mengalami epilepsi tertentu sering disertai dengan gejala autisme," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dalam acara Expo Peduli Autisme 2010, di Gedung Sucofindo, Jakarta, Sabtu (17/4/2010).
Dr Hardiono menambahkan kejang adalah perubahan sementara dan tidak terkontrol dari kesadaran, perilaku, aktivitas motorik, sensasi atau fungsi otonomnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas listrik sel saraf di otak yang berlebihan. Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit dianggap sebagai kejang lama, sedangkan jika berlangsung lebih dari 30 menit disebut sebagai status epileptikus.
Anak dengan beberapa keadaan khusus misalnya tuberous sclerosis, rubella congenital, sindrom Down, sindrom Landau Kleffner dan electrical status epilepticus during slow-sleep dapat mengalami autisme dan epilepsi secara bersama-sama.
Seorang anak yang mengalai kejang tanpa demam untuk pertama kalinya disebut sebagai first unprovoked seizure. Sebanyak 20 persen anak yang mengalami kejang ini akan mengalami kejang kembali. Jika sudah dua kali mengalami kejang tanpa sebab maka disebut sebagai epilepsi. Epilepsi bisa terlihat sebagai bangkitan kejang umum seluruh tubuh atau hanya satu sisi (parsial) tubuh saja.
Bila seorang anak mengalami kejang tanpa sebab dua kali atau lebih, maka biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan electroencephalography (EEG). Berdasarkan pemeriksaan ini dapat diketahui aktivitas listrik sel saraf otak. Karena pemeriksaan EEG dilakukan saat anak sedang tidak terkena serangan, maka sebanyak 10-20 persen anak menunjukkan hasil EEG yang normal.
"Pemeriksaan EEG tidak dilakukan secara rutin pada anak penyandang autisme. EEG hanya bermanfaat jika anak mengalami epilepsi atau kemunduran (regresi). Dan juga tidak ada bukti bahwa kelainan EEG tanpa kejang bisa memperburuk gejala autisme," tambahnya.
Suatu penelitian jangka panjang dilakukan terhadap 108 anak penyandang autisme, didapatkan pada usia 17-40 tahun sekitar 38 persennya mengalami epilepsi. Epilepsi lebih sering ditemui pada penyandang autisme yang disebabkan oleh penyebab medis jelas, serta kejang pertama paling sering terjadi saat usia 3-7 tahun.
"Serangan yang paling sering dialami oleh anak autis adalah absence, yaitu serangan bengong secara tiba-tiba dan terjadi belasan kali dalam sehari. Kondisi ini mudah untuk diobati," ujar dokter dari divisi saraf anak departemen ilmu kesehatan anak FKUI.
Dr Hardiono menuturkan anak autis banyak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan gangguan perilaku lainnya, maka tidak semua obat bisa digunakan untuk anak penyandang autis dan harus memperhatikan kemungkinan efek samping dari pengobatan yang diberikan. Karena beberapa obat sering menyebabkan anak bertambah hiperaktif dan masalah perilaku lainnya.
"Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah jangan sekali-kali menghentikan obat epilepsi secara mendadak atau sendiri, karena dapat menyebabkan kejang yang lebih hebat dan sulit untuk diatasi," tambahnya.
Keterlibatan gangguan otak pada autisme telah dibuktikan dengan pemeriksaan terhadap anatomi dan struktur otak, pemeriksaan terhadap bahan kimia di otak dan berbagai pemeriksaan pencitraan (imaging). Namun tak ada satupun yang dianggap sebagai penyebab pasti dari autisme.
"Sebanyak 40 persen anak penyandang autisme juga mengalami epilepsi, sedangkan risiko pada anak bukan autisme hanya sekitar 1-2 persen saja. Sebaliknya anak yang mengalami epilepsi tertentu sering disertai dengan gejala autisme," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dalam acara Expo Peduli Autisme 2010, di Gedung Sucofindo, Jakarta, Sabtu (17/4/2010).
Dr Hardiono menambahkan kejang adalah perubahan sementara dan tidak terkontrol dari kesadaran, perilaku, aktivitas motorik, sensasi atau fungsi otonomnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas listrik sel saraf di otak yang berlebihan. Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit dianggap sebagai kejang lama, sedangkan jika berlangsung lebih dari 30 menit disebut sebagai status epileptikus.
Anak dengan beberapa keadaan khusus misalnya tuberous sclerosis, rubella congenital, sindrom Down, sindrom Landau Kleffner dan electrical status epilepticus during slow-sleep dapat mengalami autisme dan epilepsi secara bersama-sama.
Seorang anak yang mengalai kejang tanpa demam untuk pertama kalinya disebut sebagai first unprovoked seizure. Sebanyak 20 persen anak yang mengalami kejang ini akan mengalami kejang kembali. Jika sudah dua kali mengalami kejang tanpa sebab maka disebut sebagai epilepsi. Epilepsi bisa terlihat sebagai bangkitan kejang umum seluruh tubuh atau hanya satu sisi (parsial) tubuh saja.
Bila seorang anak mengalami kejang tanpa sebab dua kali atau lebih, maka biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan electroencephalography (EEG). Berdasarkan pemeriksaan ini dapat diketahui aktivitas listrik sel saraf otak. Karena pemeriksaan EEG dilakukan saat anak sedang tidak terkena serangan, maka sebanyak 10-20 persen anak menunjukkan hasil EEG yang normal.
"Pemeriksaan EEG tidak dilakukan secara rutin pada anak penyandang autisme. EEG hanya bermanfaat jika anak mengalami epilepsi atau kemunduran (regresi). Dan juga tidak ada bukti bahwa kelainan EEG tanpa kejang bisa memperburuk gejala autisme," tambahnya.
Suatu penelitian jangka panjang dilakukan terhadap 108 anak penyandang autisme, didapatkan pada usia 17-40 tahun sekitar 38 persennya mengalami epilepsi. Epilepsi lebih sering ditemui pada penyandang autisme yang disebabkan oleh penyebab medis jelas, serta kejang pertama paling sering terjadi saat usia 3-7 tahun.
"Serangan yang paling sering dialami oleh anak autis adalah absence, yaitu serangan bengong secara tiba-tiba dan terjadi belasan kali dalam sehari. Kondisi ini mudah untuk diobati," ujar dokter dari divisi saraf anak departemen ilmu kesehatan anak FKUI.
Dr Hardiono menuturkan anak autis banyak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan gangguan perilaku lainnya, maka tidak semua obat bisa digunakan untuk anak penyandang autis dan harus memperhatikan kemungkinan efek samping dari pengobatan yang diberikan. Karena beberapa obat sering menyebabkan anak bertambah hiperaktif dan masalah perilaku lainnya.
"Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah jangan sekali-kali menghentikan obat epilepsi secara mendadak atau sendiri, karena dapat menyebabkan kejang yang lebih hebat dan sulit untuk diatasi," tambahnya.
Sumber: Risiko Epilepsi Pada Anak Autis
Vera Farah Bararah - detikHealth
img
ilustrasi (Foto: wellsphere)
Jakarta, Salah satu keadaan yang sering dihubungkan dengan autisme adalah epilepsi. Penyandang autisme memiliki risiko lebih besar untuk mengalami epilepsi dibandingkan dengan anak yang tidak autisme.
Keterlibatan gangguan otak pada autisme telah dibuktikan dengan pemeriksaan terhadap anatomi dan struktur otak, pemeriksaan terhadap bahan kimia di otak dan berbagai pemeriksaan pencitraan (imaging). Namun tak ada satupun yang dianggap sebagai penyebab pasti dari autisme.
"Sebanyak 40 persen anak penyandang autisme juga mengalami epilepsi, sedangkan risiko pada anak bukan autisme hanya sekitar 1-2 persen saja. Sebaliknya anak yang mengalami epilepsi tertentu sering disertai dengan gejala autisme," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dalam acara Expo Peduli Autisme 2010, di Gedung Sucofindo, Jakarta, Sabtu (17/4/2010).
Dr Hardiono menambahkan kejang adalah perubahan sementara dan tidak terkontrol dari kesadaran, perilaku, aktivitas motorik, sensasi atau fungsi otonomnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas listrik sel saraf di otak yang berlebihan. Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit dianggap sebagai kejang lama, sedangkan jika berlangsung lebih dari 30 menit disebut sebagai status epileptikus.
Anak dengan beberapa keadaan khusus misalnya tuberous sclerosis, rubella congenital, sindrom Down, sindrom Landau Kleffner dan electrical status epilepticus during slow-sleep dapat mengalami autisme dan epilepsi secara bersama-sama.
Seorang anak yang mengalai kejang tanpa demam untuk pertama kalinya disebut sebagai first unprovoked seizure. Sebanyak 20 persen anak yang mengalami kejang ini akan mengalami kejang kembali. Jika sudah dua kali mengalami kejang tanpa sebab maka disebut sebagai epilepsi. Epilepsi bisa terlihat sebagai bangkitan kejang umum seluruh tubuh atau hanya satu sisi (parsial) tubuh saja.
Bila seorang anak mengalami kejang tanpa sebab dua kali atau lebih, maka biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan electroencephalography (EEG). Berdasarkan pemeriksaan ini dapat diketahui aktivitas listrik sel saraf otak. Karena pemeriksaan EEG dilakukan saat anak sedang tidak terkena serangan, maka sebanyak 10-20 persen anak menunjukkan hasil EEG yang normal.
"Pemeriksaan EEG tidak dilakukan secara rutin pada anak penyandang autisme. EEG hanya bermanfaat jika anak mengalami epilepsi atau kemunduran (regresi). Dan juga tidak ada bukti bahwa kelainan EEG tanpa kejang bisa memperburuk gejala autisme," tambahnya.
Suatu penelitian jangka panjang dilakukan terhadap 108 anak penyandang autisme, didapatkan pada usia 17-40 tahun sekitar 38 persennya mengalami epilepsi. Epilepsi lebih sering ditemui pada penyandang autisme yang disebabkan oleh penyebab medis jelas, serta kejang pertama paling sering terjadi saat usia 3-7 tahun.
"Serangan yang paling sering dialami oleh anak autis adalah absence, yaitu serangan bengong secara tiba-tiba dan terjadi belasan kali dalam sehari. Kondisi ini mudah untuk diobati," ujar dokter dari divisi saraf anak departemen ilmu kesehatan anak FKUI.
Dr Hardiono menuturkan anak autis banyak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan gangguan perilaku lainnya, maka tidak semua obat bisa digunakan untuk anak penyandang autis dan harus memperhatikan kemungkinan efek samping dari pengobatan yang diberikan. Karena beberapa obat sering menyebabkan anak bertambah hiperaktif dan masalah perilaku lainnya.
"Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah jangan sekali-kali menghentikan obat epilepsi secara mendadak atau sendiri, karena dapat menyebabkan kejang yang lebih hebat dan sulit untuk diatasi," tambahnya.
VALAS 17/4/2010 - 18:10
Jual Beli
USD 9.518 8.518
AUD 8.848 7.917
EUR 12.891 11.534
JPY 103.00 92.00
SGD 6.909 6.176
Sumber:http://mediaindonesia.com/
USD 9.518 8.518
AUD 8.848 7.917
EUR 12.891 11.534
JPY 103.00 92.00
SGD 6.909 6.176
Sumber:http://mediaindonesia.com/
Langganan:
Postingan (Atom)
