Kamis, 03 Juni 2010

Wall Street Dorong Harga Minyak

Harga minyak sedikit lebih tinggi pada Rabu (2/6/2010) waktu setempat di New York pada perdagangan yang berombak, terangkat oleh kenaikan saham di Wall Street.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli, naik 28 sen menjadi ditutup pada 72,86 dollar AS per barrel. Di London, minyak mentah Brent untuk penyerahan Juli berakhir 1,04 dollar AS lebih tinggi pada 73,75 dollar AS.

"Perdagangan gelisah (di pasar minyak) sekarang ada di sini karena kami terus mengikuti jalan pasar-pasar yang lebih luas dan ayunan dalam sentimen risiko global," kata analis VTB Capital, Andrey Kryuchenkov.

Dibuka sedikit menurun, pasar minyak berjangka New York cepat pulih dari kerugian, kemudian menghabiskan sisa sesi perdagangan dengan berubah-ubah.

Harga minyak memperoleh dukungan dari Wall Street, yang bergerak naik tajam pada paruh kedua sesi. "Minyak adalah yang paling berhubungan erat dengan pasar ekuitas di antara komoditas," kata Ellis Eckland, seorang analis independen. "Ekuitas yang lebih tinggi berarti lebih tertarik pada aset berisiko, di komoditas, sebuah prospek ekonomi yang lebih baik," katanya.

Namun, lanjut dia, jelas ada uang mengalir keluar dari komoditi di saat kontrak minyak hanya mencatat naik sedikit ketika Wall Street membuat keuntungan yang kuat.

Eckland mengatakan, pasar minyak fokus pada masalah ekonomi makro dan tampaknya mengabaikan perkembangan di Teluk Meksiko mengenai tumpahan minyak.

Phil Flynn dari PFG Best mengatakan, harga minyak telah difokuskan pada masalah lainnya. "Anda tahu, hal-hal sederhana seperti apakah zona euro akan jatuh atau tidak, apakah ekonomi global akan masuk ke dalam ganda double-dip, dan apakah China dapat membawa pemulihan ekonomi seluruh dunia."

Flynn menyatakan, pasar tidak bereaksi karena tidak pernah dihitung dengan pasokan minyak dari rig pengeboran BP. "Pasar telah fokus pada permintaan dan harapan dollar AS yang telah mengembalikan beberapa posisinya terhadap mata uang euro yang terpukul."

Pasar menunggu laporan mingguan persediaan energi Pemerintah AS, negara konsumen energi terbesar dunia. Laporan biasanya diterbitkan pada Rabu, ditunda sehari karena Senin hari libur publik
sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/03/08351223/Wall.Street.Dorong.Harga.Minyak

Cadangan Devisa Susut 4 Miliar Dollar AS

Cadangan devisa mengalami penurunan dibandingkan bulan April 2010 yang mencapai posisi tertinggi pada 78,6 miliar dollar AS. Berdasarkan siaran pers Bank Indonesia cadangan devisa per 31 Mei 2010 tercatat 74,6 miliar dollar AS atau turun 4 miliar dollar AS dibandingkan bulan lalu.

Menurut Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dyah N.K. Makhijani, posisi tersebut setara dengan pembayaran 5,87 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Disebutkannya, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sendiri tetap mencatat surplus ditengah masih tingginya risiko di pasar keuangan global. Neraca transaksi berjalan mencatat surplus yang relatif besar dengan nilai ekspor yang lebih besar daripada impor.

"Namun surplus neraca transaksi modal dan finansial sedikit menurun akibat arus modal keluar portofolio asing sehubungan dengan sentimen negatif di pasar keuangan global akibat krisis utang Yunani dan kewajiban pembayaran utang luar negeri Pemerintah," jelas dia.

Beberapa waktu lalu Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono menyatakan, cadangan devisa diperkirakan bakal turun karena digunakan untuk menahan nilai tukar agar tidak terus tersungkur akibat gempuran capital outflow.
sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/03/14475411/Cadangan.Devisa.Susut.4.Miliar.Dollar.AS

Laba Bersih BEI Catat Rekor

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan rekor tertinggi dengan meraih laba bersih sebesar Rp 343,5 miliar pada 2009, naik 47,8 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp 232,4 miliar.

Direktur Utama BEI Ito Warsito dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta Kamis (3/6/2010) mengatakan, BEI terus membangun pondasi pengembangan pasar modal dengan fokus pada peningkatan infrstruktur sistem dan teknologi, kapitalisasi pasar, dan peningkatan likuiditas pasar.

"BEI juga harus mengembangkan kemampuan para anggota bursa untuk bersama-sama mencapai target-target jangka menengah," katanya dengan menambahkan peningkatan likuiditas pasar diusahakan dengan peningkatan peran investor domestik.

Ia menambahkan, BEI juga terus berusaha meningkatkan pembinaan terhadap para anggota bursa untuk meningkatkan standar operasi dan pelayanan terhadap nasabah sehingga investor akan semakin nyaman serta aman berinvestasi di pasar modal.

"BEI memberikan dukungan infrastruktur berkelanjutan untuk anggota bursa senilai Rp 55,1 miliar per tahun selain dukungan peningkatan server untuk peningkatan manajemen resiko anggota bursa senilai Rp 8,78 miliar," ujarnya.

Ia mengatakan, BEI menekankan sisi pembinaan dan menempatkan diri sebagai mitra anggota bursa, namun BEI juga tidak segan-segan bertindak tegas memberikan sanksi terhadap anggota bursa yang mencederai kepercayaan pasar dan investor. "Tahun 2009 kami mensuspensi PT Optima Kharya Capital Securities karena indikasi penggunaan efek milik nasabahnya," ujarnya.

Sementara pendapatan usaha BEI dari perdagangan saham menurun karena menurunnya nilai rata-rata perdagangan harian dari Rp 4,44 triliun pada 2008 menjadi Rp 4,05 triliun pada 2009 atau turun 8,78 persen. "Penurunan tersebut adalah dampak lanjutan krisis ekonomi dunia yang mencapai puncaknya pada triwulan akhir 2008," kata Ito.

RUPST BEI 2010 ini dihadiri 113 pemegang saham atau 97,41 persen dari jumlah pemegang saham yang memiliki hak suara.
sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/03/14320378/Laba.Bersih.BEI.Catat.Rekor-5

Selasa, 01 Juni 2010

Rupiah Tetap Stabil

Bank Indonesia (BI) memprediksi nilai tukar rupiah pada 2011 akan tetap stabil, namun dibandingkan 2010 ada kecenderungan melemah. "BI memprediksi nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran 9.200-9.600 dengan kecenderungan bias ke atas," ujar Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (1/6/2010) malam.

Darmin menambahkan dengan prediksi itu, asumsi rata-rata nilai tukar rupiah yang digunakan pemerintah yakni dalam kisaran Rp 9.100 hingga Rp 9.400 per dollar AS masih cukup realistis untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RAPBN tahun Anggaran 2011. "Secara umum asumsi pemerintah itu juga masih dalam kisaran proyeksi nilai tukar BI," ujarnya.

Menurut dia, perkembangan harga komoditas internasional pada 2011 akan memengaruhi perkembangan harga domestik yang berbeda dengan 2010. Dalam kondisi itu, kecenderungan kenaikan harga komoditas internasional masih dapat diimbangi oleh kecenderungan nilai tukar. "Untuk itu, dengan prospek nilai tukar cenderung melemah 2011, dampak kenaikan harga komoditas internasional terhadap harga domestik menjadi lebih tinggi," ujarnya.

Sementara, terkait suku bunga SBI 3 bulan, Darmin mengatakan asumsi rata-rata suku bunga SBI 3 bulan pada 2011 dapat mencapai 6,5 hingga 7 persen dan angka itu tidak jauh berbeda dengan perkiraan SBI Pemerintah sebesar 6,3 sampai 6,7 persen.

Ia mengatakan suku bunga rata-rata SBI, telah dilakukan dengan mempertimbangkan prospek ekonomi pada 2011 yang semakin baik diikuti oleh kecenderungan peningkatan tekanan inflasi.

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/02/01281492/Rupiah.Tetap.Stabil..

Harga Emas Makin Mahal

Harga emas mencapai level tertinggi dua minggu terakhir. Logam mulia ini menjadi harapan para investor yang khawatir terhadap ketidakpastian ekonomi global, seiring permasalahan baru perbankan di Eropa.

Pada perdagangan Selasa (1/6/2010) waktu setempat, di Divisi Comex New York Mercantile Exchange, harga emas pengiriman Agustus melonjak 11,90 dollar AS (1 persen) menjadi 1.226,90 dollar AS per ounce. Posisi ini merupakan level tertinggi sejak 17 Mei. Sedangkan harga emas untuk pengiriman Juni juga menguat 12,60 dollar AS menjadi 1.224,80 dollar AS.

Sementara pada perdagangan di Hongkong Rabu (2/6/2010) pagi, harga emas dibuka naik ke posisi 1.221,30-1.222,30 dollar AS dari penutupan sebelumnya di posisi 1.219,50-1.220,50 dollar AS.

ADapun, di Indonesia, Antam hari ini mematok harga emas batangan di posisi Rp 367.000 per gram, atau naik dibanding kemarin sebesar Rp 365.000 per gram. Untuk diketahui saja, harga ini berlaku untuk setiap pembelian 1.000 gram alias 1 kg emas.

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/02/10131480/Harga.Emas.Makin.Mahal

Barang Impor China Makin Mengalir Deras

Arus barang asal China makin deras mengalir ke Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, nilai impor produk negeri tembok raksasa ke negara kita terus naik.

Pada April 2010, nilai impor produk China mencapai 1,48 miliar dollar AS, naik 143,2 juta dollar AS ketimbang Maret lalu yang hanya 1,34 miliar dollar AS. Sebaliknya, ekspor kita ke China justru turun 165,2 juta dollar AS, dari 1,09 miliar dollar AS menjadi 929,8 juta dollar AS.

Buntutnya, neraca perdagangan Indonesia-China pada April lalu mengalami defisit sebesar 553,6 juta dollar AS. Sementara untuk Januari hingga April 2010, defisit neraca perdagangan mencapai 1,591 miliar dollar AS. "Defisit dengan China ini mesti diwaspadai," ujar Kepala BPS Rusman Heriawan, Selasa (1/6/2010).

Ya, serbuan produk-produk asal negeri semiliar penduduk tersebut tak lepas dari pemberlakuan Kesepakatan Perdagangan Bebas alias Free Trade Agreement ASEAN dengan China (ACFTA). Namun, Rusman menyatakan, defisit neraca perdagangan dengan China itu tidak mengkhawatirkan. Soalnya, secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia masih mencetak surplus. Misalnya, dengan Amerika Serikat, surplus sebanyak 306,8 juta dollar AS pada April lalu, sedangkan sepanjang Januari-April 2010 surplus 1,06 miliar dollar AS.

Begitu juga dengan Korea Selatan dan Taiwan. Dengan Korea Selatan, neraca perdagangan kita surplus sebesar 141,4 juta dollar AS selama April lalu. Adapun dengan Taiwan surplus 49,6 juta dollar AS.

Rusman menambahkan, pada April 2010, nilai impor Indonesia mencapai 11,53 miliar dollar AS atau naik 71,98 persen dibandingkan dengan April 2009. "Ini menunjukkan gairah kegiatan ekonomi dalam negeri menggeliat," katanya.

Ekspor Turun

Berbeda dengan angka impor yang pada April lalu naik sebesar 5,12 persen jadi 11,53 miliar dollar AS ketimbang Maret sebelumnya, nilai ekspor Indonesia justru turun sebesar 5,66 persen menjadi 12,05 miliar dollar AS. Namun, kalau dibandingkan dengan April tahun lalu, nilai ekspor kita meningkat 42,56 persen. Jepang masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, walaupun terjadi penurunan ekspor pada April 2010, nilai rata-rata bulanan ekspor tahun ini masih lebih tinggi ketimbang tahun lalu. "Penurunan tersebut bukan karena krisis utang yang melanda sejumlah negara Eropa, tetapi krisis Eropa tetap harus kita waspadai,"
sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/02/11053269/Barang.Impor.China.Makin.Mengalir.Deras

Indonesia Non-Oil/Non-Gas Exports May Surpass Target

Trade Minister Mari Elka Pangestu predicts Indonesia’s non-oil/non-gas export growth in 2010 would reach 8 to 9 percent or higher than the target of 7 - 8.5 percent.

"The export growth target for 2010 is between 7 and 8.5 percent but the trend now is 9 percent. We are still within the trend or above it. The growth is flat but we are optimistic it will grow 8 to 9 percent this year," she said to newsmen here on Tuesday.

She said although non-oil/non-gas export performance in April dropped 7.13 percent in volume, the value remained high, namely US$9.85 billion. The monthly average value of non-oil/non-gas exports in 2010 so far was around US$10 billion, she said.

"The monthly average export value this year is higher than in 2008. It is up by around 37 percent," she said.

She said exports in April dropped because demand from destination countries declined due in part to seasonal factors.

"The month-on- month drop in exports does not reflect the year-long trend. Periodically the growth from January to April is more sustainable," she said.

The minister said the dominance of 10 prime non-oil/non-gas export products was declining while exports of other products were rising. The 10 prime export products are coffee, shrimp, textiles and textile products, footwear, automotive and electronic products, cacao, palmoil, forestry products, rubber and rubber products.

The export performance of the 10 prime products has been restored after being affected by crisis. She referrred to exports of rubber and rubber products which in the first three months this year rose 110 percent compared to the same period last year.

"Export of footwear and textiles grew respectively at 19.4 percent and 18 percent," she said.

The growth in exports of footwear, she said, reflected the success of relocation of footwear plants from China and Vietnam and continued orders from principal companies.
sumber: http://english.kompas.com/read/2010/06/02/10552143/Indonesia.Non-OilNon-Gas.Exports.May.Surpass.Target-5